Dengan Sampah pun Kita Masih Bisa Berkreasi.

Leave a comment

Seorang pengunjung mengamati salah satu karya mading 3 D di gedung Kononia UKDW Yogyakarta, Jumat (3/2). Mading 3 D ini adalah salah satkompetisi yang diadakan oleh KOMPAS Muda Yogyakarta menyambut HUT KOMPAS Muda yang ke 5.

Bertempat di Gedung Koinonia Universitas Sanata Dharma (UKDW) Yogyakarta, Jumat (3/2) sore kemarin, terlihat hiruk pikuk beberapa anak muda yang dari dresscode-nya nampak jelas bahwa mereka adalah anak SMA. Beberapa dari mereka hilir mudik untuk mengambil barang yang masih tertinggal di pick up yang mereka parkir di dekat gerbang keluar kampus UKDW, yang lainnya sibuk menempel bahan – bahan yang hampir seluruhnya berasal dari barang bekas pakai di sebuah benda yang menyerupai pohon, bumi, dan berbagai macam bentuk lainnya.

Mereka semua adalah peserta kompetisi Mading 3D. Mading 3D sendiri adalah salah satu kompetisi yang diadakan KOMPAS Muda Yogyakarta untuk memperingati HUT-nya yang ke-5. Selain kompetisi Mading 3D, diselenggarakan pula kompetisi Paint Your Green Bag di hari Sabtu (4/2).

Kompetisi Mading 3D sendiri diikuti oleh 20 tim peserta, dimana 1 tim terdiri dari 3-5 orang yang berasal dari beberapa SMA di Yogyakarta dan sekitarnya. Peserta yang ikut berpartisipasi diantaranya adalah SMA 6 Yogyakarta, SMA Stella Duce 1 Yogyakarta, dan SMA Pangudi Luhur Van Lith Magelang. Ada beberapa SMA yang mendaftar lebih dari 1 tim, seperti halnya SMSR Yogyakarta yang mengirim 5 timnya. Kebanyakan dari mereka mendaftar saat KOMPAS Muda Yogyakarta mengadakan road show ke beberapa SMA di Yogyakarta.

Di kompetisi Mading 3D ini, para peserta diminta oleh Mudaers, sebuatan awak KOMPAS Muda, untuk membuat sebuah mading yang bahan bakunya berasal dari barang bekas. Sesuai dengan tema KOMPAS Muda tahun ini, “Investo”, dimana para peserta diharapkan menginvestasikan energinya untuk alam. Seperti yang diungkapkan Angger Timur Lanang, ketua KOMPAS Muda Yogyakarta #5, “Dengan kompetisi ini, diharapkan para peserta tidak hanya dapat mencintai alam saja, tetapi juga bisa berkreativitas dengan menggunakan barang – barang bekas yang ramah lingkungan. Kami ingin membuktikan bahwa dengan sampah pun kita tetap bisa berkreasi.”

Beberapa peserta kompetisi Mading 3D sendiri saat tiba di venue, kebanyakan membawa mading yang sudah 50 % jadi. Pihak KOMPAS Muda memang memberi waktu kurang lebih 2 minggu kepada peserta untuk membuat konsep dan merancang sebagian mading yang ingin peserta buat. Baru nanti saat hari H, selama 2 jam, semua peserta secara bersama – sama melakukan finishing. Namun, dari sedemikian longgarnya kebijakan pihak KOMPAS Muda, ada salah satu peserta yang pada saat hari H di venue, baru mengerjakan mading dari awal, yaitu SMA Stella Duce 1. Menurut Amanda Hendra, yang merupakan salah siswa kelas XI SMA Stella Duce 1, alasan timnya yang membuat mading 3D berkonsep kami orang muda peduli alam semesta ini adalah banyaknya tugas sekolah, “Minggu ini kami sibuk sekali, setiap hari ada tugas, jadi baru sempat mencari bahan – bahannya 2 hari sebelum kompetisi, itu pun kami nglembur,untung waktu 2 jam yang diberikan KOMPAS Muda saat di venue cukup waktunya untuk menyelesaikan mading tim kami,” ujar Amanda. “Di kompetisi ini kami cuma mengeluarkan dana Rp 15.000, 00 untuk beli ¬double tip ¬¬dan teh kotak, bahan – bahan lainnya seperti kertas warna, kardus, lem kanji, stick es krim, dan kain perca kami cari di gudang sekolah, pokoknya kami berusaha biaya seminimum mungkin, dengan energi semaksimal mungkin,” sambung Amanda.

Berbeda halnya dengan salah satu peserta dari SMSR yang timnya bernama Seniman Muda Indonesia (Semi). Salah satu anggotanya, Wahyu Nur Hidayat menjelaskan bahwa timnya mengalokasikan waktu satu minggu untuk mempersiapkan mading 3D mereka. “Di SMSR, 3 tim yang mendaftar pertama akan dibantu soal dana oleh pihak sekolah, dan kebetulan kami salah satu tim yang dibantu itu,” tambah Wahyu yang saat ini masih duduk di bangku kelas XI SMSR. Dalam kompetisi Mading 3D KOMPAS Muda ini, timnya membuat sebuah mading 3D yang berasal dari kantong semen bekas, koran bekas, bambu, triplek, dan ampas dari kayu habis digergaji. “konsepnya bentuk bumi yang disangga 4 tangan, melambangkan kita sebagai manusia harus bisa merawat bumi kita. Di bagian tangan ada unsur akar yang melambangkan pohon dengan maksud agar bumi kita itu hijau dan tidak tandus seperti saat ini,” jelas Wahyu.

Di kompetisi ini, uniknya, dalam membuat Mading 3D, semua peserta wajib memasukan unsur bekas kemasan Teh Kotak di setiap karyanya. Menurut Angger Timur Lanang sebagai ketua KOMPAS Muda Yogyakarta #5 sendiri menyatakan bahwa syarat harus ada bekas kemasan Teh Kotak adalah permintaan dari pihak sponsor. “Kebetulan karena sponsornya Teh Kotak jadi tiap peserta wajib menyertakan bekas bungkus Teh Kotak dalam setiap karya mereka, itu permintaan dari pihak sponsor sendiri,” ujar Angger, mahasiswa jurusan komunikasi Atmajaya angkatan 2011 ini.

Hmmm…aneh juga kalo di setiap karya mading 3D semuanya ada teh kotak nya. Namun, kita mesti memaklumi kalo tanpa sponsor itu, mungkin juga kompetisi ini tidak ada, bahkan mungkin kalo benar – benar tak ada sponsor, total hadiah Rp 3.250.000, 00 tinggal harapan buat para juara. Namun, yang pasti, ada atau tidaknya sponsor, tanpa harus ada iming – iming hadiah juga, kita sebagai generasi saat ini juga mesti sadar akan melindungi dan menjaga lingkungan di bumi kita sendiri. Bersahabat dan melestarikan alam sudah bukan pilihan lagi bagi kita. Jadilah bagian dari sobat bumi dengan menginvestasikan energimu untuk bumi, INVESTO !!!!!!!!

***
Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Web Kompas MuDA & Pertamina
***

Advertisements

Come Back

1 Comment

Oi Oi Oi

Entah apa yang membuat saya membuka blog ini kembali setelah berbulan – bulan (bahkan mungkin satu tahun) saya tidak membuka blog ini. Seperti di post saya sebelumnya dimana saya menyatakan diri untuk pamit dari “rumah” ini dan mencoba di beberapa “kontrakan” baru dengan “cara hidup” yang baru juga pastinya. Namun, entah kenapa rasanya saya kok pingin buka blog ini saat ini. Sebenarnya dari kemaren – kemaren saya ingin buka blog ini, tapi saya nggak berani, entah kenapa. Mungkin saya malu, malu atas tulisan dan foto – foto saya yang sepertinya ngimchil banget.

Akhirnya, pada suatu malam saya disadarkan oleh sebuah sms dari nomor yang tidak saya kenal yang ternyata dia adalah salah satu awak majalah Bikers Freak, dimana dia yang sedang mencari foto para pesepeda yang pernah (atau sedang) berkeliling dunia secara tidak sengaja terdampar pada salah satu posting blog saya, dimana saat itu saya sedang menceritakan kisah seperempat hari saya bersama Daisuke Nakanishi dan Chris Roach di tulisan ini. Tulisan yang sudah lama itu ternyata ada manfaatnya buat orang lain yang membutuhkan. Setelah cas cis cus yang intinya dia minta ijin buat minta beberapa foto saya, akhirnya saya kirim email beberapa foto mereka ke dia. Sesuatu banget 🙂

Saat itu juga saya jadi semakin sadar akan semangat berbagi di dunia perbloggingan ini. Entah apa pun isinya, meski pun isi blog kita seperti lutis atau rujak yang isinya macam – macam, tetapi kalo apa yang kita ceritakan dengan tulisan dan gambar itu bisa berguna buat segelintir orang, dan meski ditulis dengan gaya se- kimchil apa pun, it’s fine. 😀 minimal punya semangat berbagi itu sudah cukup kalo buat saya, entah kalo buat anda sekalian teman – teman di dunia maya yang saya hormati 🙂

Saya teringat pesan salah satu wartawan KOMPAS yang saya ketemui di salah satu workshop tentang penulisan di Jogja, Gesit Ariyanto,

“Semua hal yang menarik tak pasti penting, dan semua hal yang penting tak pasti menarik”