Ujian Akhir Nasional SMA, 2 bulan lagi. Tentunya semua pelajar yang sekarang duduk di bangku kelas 3 SMA sudah menyiapkan diri untuk menghadapi 6 mata pelajaran di Ujian 2 bulan mendatang.

Berat, sangat berat. Apalagi sekarang standart rata-rata kelulusan tahun ini meningkat menjadi 5,5. Tentunya kenaikan standart itu menjadi beban tersendiri bagi mereka yang menghadapinya.

Namun, bagaimana kalo beban yang sudah ada itu ditambah dengan beban yang lebih berat lagi? Apa jadinya?

Innalilahiwainnailaihiroji’un. Yah, semua yang kita miliki memang semua bepulang ke Pangkuan-Nya, dan tak ada daya kita untuk merubahnya. Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh teman saya. Muhammad Abdul Ghofar. Dia kemaren (Sabtu,21/2) jam 18.30, telah kehilangan ayahnya yang telah berpulang dan dimakamkan tadi siang ba’da dzuhur. Ghofar, begitu saya dan teman-teman memanggilnya, merupakan adik kelas saya waktu SMA dulu. Dia sekarang kelas 3 SMA.

Padahal, 2 bulan dia akan menghadapi ujian yang akan menentukan masa depannya, tapi, takdir mengharuskan dia menghadapi ujian dini. Dan ujian yang dihadapi sekarang adalah ujian yang mahasulit dan ujian mental. Bagaimana sih rasanya ditinggal seorang ayah itu? Orang yang selalu memberikan petuah untuk belajar. Orang yang akan marah kalo kita melakukan sesuatu yang tidak benar. Orang yang menyayangi kita sangat itu. Bagaimana rasanya kalo kehilang dia?

Saya dan teman-teman cuma bisa mensuportna. “berat Praz, kalo ini berat..”, itulah kata dia stelah kami tanya ke dia keadaannya. Oh God..tak tahu harus berkata apa lagi kami, tapi doa dan dukungan selalu kami berikan ke dia dan keluarganya untuk diberikan ketabahan dan kekuatan selalu. Dan semoga Ghofar, teman kami, bisa melapangkan dadanya dan bisa kembali fokus untuk belajar mempersiapkan Ujian yang tinggal sebentar lagi. Semoga pula, ayah Ghofar, diampuni dosa-dosanya di dunia dan bisa diterima di sisi-Nya. Amin.

Advertisements