Berlari di tengah lapangan, bergerak mencari ruang kosong, berharap mendapatkan operan dari teman, akhirnya bola lambung mengarah ke badanku, ku kuntrol dengan dada, dan…dash !!..dengan sekali sentuh bola lansung ku tendang ke arah gawang. Sayang bola tidak masuk ke jala gawang karena tendanganku melenceng dari sasaran. Serontak, penonton yang duduk di tribun pun bersama-sama berteriak….”ohhhh !!!” menandakan kecewa bola tendanganku tidak masuk ke Jala gawang lawan dan aku pun memegangi kepalaku sebagai ekspresi kekecewaanku karena membuang peluang untuk membawa kesebelasanku memenangkan pertandingan.

Huff…lama sekali aku tak merasakan kejadian seperti itu. bertanding sepak bola di suatu stadion bertaraf nasional sekelas Stadion Tridadi Semarang (kandang PSIS Semarang). Bemain sebagai gelandang bertahan, menekel lawan untuk bisa merebut bola, saling dorong untuk bisa memenangkan duel udara dengan lawan, dan tentunya yang aku rindukan adalah seremonial saat perayaan gol tim. Kami saling berpelukan, saling tertawa, dan berteriak “GOLLLLL!!!!”

Kangen banget bisa merasakan eurofia itu. Bermain bola dengan membawa nama daerah dan bertanding di hadapan ratusan penonton yang hadir adalah sebuah kebanggaan tersendiri buatku. Rasa nikmat itu terakhir kudapat Mei 2006, beberapa hari sebelum terjadinya gempa hebat di Yogyakarta, saat timku masuk final di sebuah turnamen yang diadakan SMA ku dulu.

Cita-citaku dulu menjadi seorang pemain sepakbola profesional kandas karena posturku yang tidak memenuhi standar pemain sepakbola. Dengan tinggi badan 158 cm, aku dirasa terlalu kecil untuk bisa masuk kancah sepak bola yang semi profesional bahakan profesional.

Terbukti dari ditolaknya aku masuk seleksi Timnas U-15 dulu, saat aku SMP. Saat itu, selain skill pemain, tinggi badan merupakan kriteria utama yang menentukan pemain itu lolos ke seleksi tahap kedua di Jakarta (waktu itu aku seleksi di Semarang). Dengan syarat minimal tinggi badan 170 cm untuk ukuran SMP, aku tentu saja gagal di seleksi tahap pertama. Dan anehnya, memang, yang diterima adalah mereka-mereka dari klub lain yang punya postur jangkung, entah mereka curi umur atau tidak, hanya Tuhan yang tahu.

Itu lah salah satu sebab aku sekarang tidak bercita-cita lagi menjadi seorang pemain sepak bola profesional, bermain di klub sekelas Arema Malang, PSIS Semarang, atau PSM Makasar, 3 klub impianku dulu.

Dari pengalamanku yang pernah merasakan pembinaan sepak bola di Indonesia selama 6 tahun (tahun 1999-2004), aku memandang olahraga sepak bola di Indonesia tidak sehat. Maksudnya tidak sehat di sini misal saja seperti apa yang aku contohkan di atas tadi. Tanpa bermaksud dendam atau apa, aku melihat mereka-mereka yang lolos seleksi, ada beberapa dari mereka yang tidak ikut seleksi tapi lolos. Denger-denger nih, mereka menggunakan kekuatan uang untuk bisa meloloskan mereka ke seleksi babak selanjutnya di Jakarta, alias nyogok.

Tidak Cuma itu, dalam setiap turnamen, mungkin temen-temen bisa lihat sendiri di tayangan televisi. Saat liga Indonesia berlangsung. Banyak kejadian-kejadian memalukan yang terjadi, kita disuguhi wasit yang dikejar-kejar pemain, wasit yang dipukuli pemain. Itu terjadi karena salah satu tim merasa dirugikan, itu menegaskan wasit yang memimpin pertandingan itu berat sebelah. Trus kenapa wasit itu berat sebelah ?? ya apa lagi alasannya kalo nggak disuap.

Hmm…mungkin pendapatku ini terlalu dangkal dan nggak kuat, tapi memang, aku sangat prihatin dengan perkembangan sepekbola di negeri kita ini. melihat tadi malam tim merah putih bertanding di kualifikasi Piala Asia melawan Australia saja, rasanya miris karena kualitas tim kita masih jauh dari apa yang kita semua harapkan, meskipun hasil akhir seri 0-0.

Apa yang salah??? Karena aku merasakan dan pernah mengalaminya waktu di bina di salah satu SSB di Semarang, jelas itu karena proses pembinaan. Lagi-lagi permasalahan kembali padi poros masalah, Pemerintah !!! terutama KONI yang merupakan induk olahraga nasional.

Ahh..sudahlah basa-basiku ini, biarlah itu menjadi urusan mereka yang di atas sana, sekarang aku Cuma bisa menikmati perkembangan sepakbola dari koran dan televisi. Sesekali bermain bola dengan teman-temanku meski itu Cuma just fun dan nggak ada penontonnya. Meskipun sekarang sudah tidak bercita-cita menjadi seorang pesepak bola Profesioanal seperti Firman Utina dan Budi Sudarsono, :D, aku bakal tetap mencintai sepak bola karena dari sepak bola lah aku sekarang bisa seperti ini. Maju terus Sepak bola Indonesia !!!!!

Advertisements