malioboro at night

malioboro at night


Dari siang sampai malam kemaren (selasa,13Jan), hujan nggak henti-henti juga. Agak emosi juga karena aku sudah lama nggak hunting gara-gara cuaca yang nggak bersahabat. Padahal kemaren itu aku punya rencana buat solo hunting ke Malioboro lagi. Kok kesana lagi? Bukanya sudah ya seperti apa yang dipost sbelum posting ini? Mmm..iya si emang aku kemaren senen udah kesana tapi yang membuatku kesana tu aku pingin nampilin wajah malioboro di sore hari dimana waktu sore menurutku adalah orgasmenya malioboro,hehehe..

Aku nungguin ujan reda sambil mbaca majalah gratisan dalam format pdf yang ku download lewat internet. Nama majalahnya exposure, mungkin temen-temen yang suka buka situs fotografer.net, pastinya tahu majalah apa ini. Aku waktu itu mbaca yang edisi 5. Secara nggak sengaja, aku nemuin sesuatu judul yang mbuat aku interest banget. Ya apalagi kalo nggak street photography.

Yap, dalam majalah yang ku baca itu, dalam rubrik ‘be inspire’, aku mendapat suatu pelajaran yang penting banget dalam street photography. Yaitu, EXPERIMENTAL DAN BERANI KELUAR DALAM CUACA APAPUN !! Rasanya kata-kata dari penulis yang kebetulan tinggal di Jerman itu langsung nusuk jiwa dan ragaku. Beuh..akhirnya aku memutuskan buat malam ni, aku mau hunting!!

Serasa dijatuhi ide dari langit, aku mendapatkan inspirasi tentang apa aja yang mesti aku lakuin. Dalam sistem kerja otakku waktu itu, aku memutuskan untuk akhirnya mencoba merekam wajah Malioboro dimalam hari, disaat toko-toko mau tutup dan para pedagang kaki lima yang berkemas-kemas merapikan barang dagangannya. Yap,it’s great idea menurutku. Bukannya apa yang aku buat nanti adalah ‘lawan kata’ dari apa yang aku foto kemaren senen pagi, saat aku malah merekam wajah Malioboro saat Pagi hari dimana masih sedikit aktivitas manusia di sana.

Nggak beberapa lama, sekitar jam 7 malam, hujan reda, aku pun mempersiapkan alat-alat buat hunting nanti.
Canon 450 D ku kali ini kusandingkan dengan lensa EF-S 50 mm f/1.8 II. Karena akan memotret malam hari yang pastinya sedikit cahaya, jadinya aku butuh lensa yang punya bukaan lebar, makanya aku milih lensa normal ku itu dibanding yang lain.

Next, setelah isi perut dengan makan omlet dirumah, aku cabut dan sampai di sana sekitar jam 8.15. Aku memakirkan motorku kali ini lagi-lagi bertolak belakang dengan waktu hunting pagi Senen kemaren, dimana kemaren malem aku parkir deket rel kereta api (stasiun Tugu).

pengangkut

pengangkut

Parkir sekaligus membayar parkir, aku habis itu kepinggir jalan mengamati lalu lalang orang-orang yang punya kepentingannya sendiri-sendiri. Ada yang milih-milih baju, ada yang duduk-duduk saja sambil menikmati suasana malam Yogyakarta, dan banyak lagi yang kalo ku sebutin semuanya, bisa jontor ni bibir, wakakaka.

Hmm..stelah berdiam diri sejenak buat ngeset mata, hatiku, dan pikiranku ke mode On, aku mengeluarkan kameraku, ku jalan dari ujung dan setelah sampai diujung, aku kembali lagi ke ujung dimana aku parkir kendaraan tadi. Dan selama perjalanan dari sabang sampai merauke, trus kembali ke sabang lagi itu aku dapet beberapa gambar yang menurutku sebagai pemula dibidang fotografi, sudah bisa dkatakan cukup.

dinner

dinner


Begini, seperti apa yang aku pelajari dari majalah tadi yang kuceritakan di atas tadi, bahwa kita misal lagi hunting, lihatlah sesuatu disekitar kita yang mendukung, seperti refleksi, pohon, arsitektural, atau lighting, kita harus bisa membacanya, lalu cari angle, bagusnya di apain, itulah sebabnya mata kita ini kudu peka dan telaten sama hal-hal kecil yang terjadi.

Selain aku mengcapture foto suasana Malioboro diwaktu malam hari, aku mendapatkan pula momen dimana

berkemas

berkemas

para pedagang sedang berkemas. Dalam foto pedagang itu aku buat sesuatu yg berbeda, aku memanfaatkan cahaya lampu dan jalanan yang basah sebagai refleksi. Jadi, ketika pedagang dengan gerobaknya itu melewati biasan cahaya itu, ‘jepret’..dapat! Aku dapet momen yang kuinginkan.

menuju cahaya

menuju cahaya

Dalam street fotografi juga kudu bisa memanfaatkan benda-benda mati supaya tampak hidup. Lagi-lagi masalah kepekaan disini yang berpengaruh. Seperti apa yg ku capture dalam foto ‘menuju cahaya’. Perhatikan banget komposisi.

Yap,dan progress dariku adalah aku bisa membuat portraiture yang bìsa dibilang lumayan lah. Lihat fotoku

muka lelah

muka lelah

yang ‘muka lelah’ disamping. Belajar dari kegagalan motret pak tua dulu, sekarang aku bisa membuka percakapan dengan sopan, diselingi becanda, dan akhirnya aku bisa! Yippi

Lihat juga potoku yang ‘waiting’, dimana seorang ibu itu duduk sendirian, dìsampingnya ada helm, sepertinya dia menunggu, dengan background toko tutup yang menurutku mendukung, langsung aja deh ku foto, tapi eits, ku kali ini motretnya dengan cara berbeda. Ku menggunakan live view, kenapa? Ya karena ku kan pake

waiting

waiting

ensa normal, jadi nggak bisa deket kalo pake view finder, istilah jawanya ‘ngetok-ngetoki’, maka dari itu aku mendekat dari ibu itu duduk, lalu dengan pura-pura memotret bangunan (padahal nggak motret), trus pura-pura lihat hasil, nah pada saat lihat hasil ini aku dengan live view motret ibu tadi. Jadi deh,hehe..
Emang dalam motret orang, biar tetep alami dan terasa suasanya candid,kita mesti punya trik-trik khusus, hehe,setuju kan?
gang

gang


Mm..apa lagi ya, ya mungkin itu aja ya yang bisa kuceritain dalam perjalanan hunting malamku di Malioboro.
Ya pelajaran yang bisa ku petik, manfaatkan benda-benda mati yang ada seperti lampu, dinding, tiang, atau pembatas jalan, kadang-kadang tu bisa mempercantik komposisi foto kita.
Oia,satu lagi, jangan takut buat foto pada malam hari! Okay!

Street Live Project By Prasetya Yudha

Advertisements